Tampilkan postingan dengan label MLM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MLM. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Agustus 2010

UNTUK TERUS MEMIMPIN, TERUSLAH BELAJAR

 

SIKAP MAU DIAJAR:

UNTUK TERUS MEMIMPIN, TERUSLAH BELAJAR


Pergunakalah waktu Anda untuk mendengarkan serta membaca kira-kira sepuluh kali waktu Anda berbicara. Ini akan memastikan Anda terus belajar serta memperbaiki diri.
Gerald Mc. Ginnis, Presiden merangkap Directur Utama Respironics, Inc.
 
Yang penting adalah apa yang Anda pelajari setelah mengetahui semuanya.John Wooden, Pelatih Basket yang masuk Hall of Fame
 
SUKSES MENYAMAR SEBAGAI PENGEMBARA
Jika Anda melihat gambaran pria kecil dengan kumis kecil, membawa tongkat, dan mengenakan celana baggy, sepatu besar yang aneh, dan topi, Anda langsung tahu bahwa itu adalah Charlie Chaplin hanyalah Michael Jordan. Dan untuk mengukur siapa yang lebih hebat, kita harus menunggu tujuh puluh lima tahun lagi untuk mengetahui seberapa baiklah semua orang mengingat Michael.
Ketika Chaplin lahir, tak seorang pun pernah menyangka bahwa ia akan menjadi tenar. Dilahirkan dalam kemiskinan sebagai putera dari pemusik Inggris, ketika masih kecil ia menemukan dirinya di jalanan ketika Ibunya dimasukkan ke lembaga. Setelah bertahun-tahun di rumah penampungan serta yayasan yatim piatu, ia mulai bekerja dipanggung untuk menunjang hidupnya. Di usia tujuh belas tahun, ia sudah menjadi aktor kawakan. Pada tahun 1914, di pertengahan usia dua puluhan, ia bekerja pada Mack Sennett di Keystone studios di Hollywood, dengan upah 0 per minggu. Selama tahun pertama dari bisnis film itu, ia membuat tiga puluh lima film sebagai aktor, penulis, dan sutradara. Semua orang segera mengakui talentanya, dan popularitasnya pun meningkat. Setahun kemudian, ia mendapatkan upah $ 1,250 per minggu. Lalu pada tahun 1918, ia melakukan sesuatu yang belum pernah didengar orang sebelumnya. Ia menandatangani kontrak senilai juta yang pertama kalinya dalam industri hiburan. Ia sudah kaya; ia sudah terkenal; dan ia menjadi pembuat film paling berkuasa di dunia - diusia yang baru dua puluh sembilan tahun.
Chaplin sukses karena ia memiliki talenta besar dan dorongan yang luar biasa. Namun ciri-ciri itu didorong oleh sikap yang mau diajar. Ia terus berupaya untuk tumbuh, belajar, dan menyempurnakan aktingnya. Bahkan ketika ia sudah sangat populer serta mendapatkan bayaran tertinggi pun di dunia, ia tidak puas dengan status quo.
Chaplin menjelaskan hasratnya untuk memperbaiki diri kepada seorang pewawancara:
Jika sedang menonton salah satu film saya yang ditayangkan kepada hadirin, saya selalu memperhatikan apa yang tidak membuat mereka tertawa. Jika, umpamanya, beberapa hadirin tidak tertawa melihat acting yang saya maksudkan untuk melucu, saya langsung merobek-robek adegan tersebut dan berusaha menemukan apa yang keliru dengan gagasannya atau dalam pelaksanaannya. Jika saya mendengar tawa padahal suatu adegan tidak saya maksudkan untuk melucu, saya akan bertanya kepada diri sendiri, mengapa orang tertawa menyaksikannya.
Hasrat untuk tumbuh itu menjadikannya sukses secara ekonomi, dan membawa tingkat kesempurnaan yang tinggi pada segala yang dilakukannya. Di zaman itu, karya Chaplin diangap sebagai hiburan yang mengagumkan. Dengan berjalannya waktu, ia dikenal sebagai jenius komik. Hari ini, banyak filmnya dianggap sebagai mahakarya, dan ia dihargai sebagai salah seorang pembuat film terbesar sepanjang zaman. Penulis naskah film sekaligus kritikus film, James Agee menulis "Pantomim yang terbaik, emosi yang terdalam, serta persajakan yang paling kaya serta paling menggugah ada dalam karya Chaplin".
Seandainya Chaplin menggantikan sikap mau diajarnya itu dengan kepuasan diri yang sombong ketika ia sukses, namanya akan disejajarkan dengan Ford Sterling atau Ben Turpin, bintang film bisu yang sudah dilupakan orang. Namun Chaplin terus tumbuh dan belajar sebagai seorang aktor, sutradara, dan akhirnya eksekutif film. Ketika ia belajar dari pengalaman bahwa para pembuat film ditentukan nasibnya oleh studio serta distributor, ia mulai membentuk organisasinya sendiri, yaitu United Artists, bersama dengan Douglas Fairbank, Mary Pickford, atau D.W. Griffith. Perusahaan film ini masih beroperasi hingga sekarang.
MENGUNGKAPKANNYA
Para pemimpin menghadapi bahaya sikap berpuas diri dengan status quo. Toh jika seorang pemimpin sudah memiliki pengaruh serta mencapai tingkat kehormatan tertentu, untuk apa ia terus tumbuh? Jawabannya sederhana:
Pertumbuhan Anda menentukan siapa Anda sesungguhnya.
Siapa Anda sesungguhnya menentukan siapa yang akan tertarik kepada Anda.
Siapa yang tertarik kepada Anda menentukan sukses organisasi Anda.
Siapa yang tertarik kepada Anda menentukan sukses organisasi Anda.
Jika Anda ingin menumbuhkan organisasi Anda, Anda harus tetap mau diajar.
Inzinkan saya untuk memberi Anda lima panduan untuk membantu Anda mengembangkan serta mempertahankan sikap mau diajar:
  1. Obatilah Penyakit Tujuan Anda
    Ironisnya, kurang sikap mau diajar sering kali berakar pada prestasi. Anda orang yang dengan keliru percaya bahwa jika mereka dapat mencapai suatu sasaran tertentu, mereka tidak perlu bertumbuh lagi. Itu bisa terjadi dengan hampir segalanya: meraih gelar, mencapai posisi yang diinginkan, mendapatkan penghargaan tertentu, atau mencapai sasaran keuangan.
    Namun para pemimpin yang efektif tidak mungkin berpikir seperti itu. Begitu mereka berhenti tumbuh, potensi mereka akan lenyap - termasuk potensi organisasinya. Ingatlah kata-kata Ray Kroc: "selama Anda tetap hijau, Anda akan tetap bertumbuh. Begitu Anda matang Anda akan mulai membusuk."
  2. Atasilah Sukses Anda
    Satu lagi ironi dari sikap mau diajar adalah bahwa sukses sering kali menghambatnya. Para pemimpin yang efektif tahu bahwa yang membantu mereka sampai ke sana takkan di sana. Jika Anda sudah sukses di masa lalu, hati-hatilah. Dan renungkanlah ini: jika yang Anda lakukan kemarin masih tampak hebat bagi Anda, hari ini Anda belum berbuat banyak.
  3. Jangan Ambil Jalan Pintas
    Teman saya, Nancy Dorman, mengatakan, "Jarak terjauh antara dua titik adalah jalan pintas". Itu memang benar. Demi apa pun yang berharga dalam hidup ini, ada harga yang harus Anda bayar. Sementara Anda berhasrat tumbuh di suatu bidang tertentu, cari tahulah apa syaratnya, termasuk harganya, lalu bertekadlah untuk membayarnya.
  4. Tukarkanlah harga Diri Anda
    Sikap mau diajar menuntut kita untuk mengakui bahwa kita tidak mengetahui segalanya, dan itu bisa membuat kita tampak payah. Selain itu, jika kita terus belajar, kita harus juga terus membuat kekeliruan-kekeliruan. Namun seperti yang dikatakan oleh penulis serta pengrajin yang ahli, yaitu Elbert Hubbard, "Kekeliruan terbesar yang dapat dibuat seseorang dalam hidupnya adalah terus menerus takut membuat kekeliruan". Anda tidak mungkin bangga dan mau diajar sekaligus.
    Emerson menulis, "Untuk segala yang Anda dapatkan, Anda akan kehilangan sesuatu". Untuk mendapatkan pertumbuhan, lupakanlah harga diri Anda.
  5. Jangan Pernah Membayar Kekeliruan yang Sama Dua kali
    Teddy Rooselvelt menyatakan, "Ia yang tidak membuat kekeliruan, tidak akan membuat kemajuan". Itu benar. Namun pemimpin yang terus saja membuat kekeliruan yang sama juga tidak membuat kemajuan. Sebagai pemimpin yang mau diajar, Anda akan membuat kekeliruan. Lupakanlah kekeliruan-kekeliruan itu, namun ingatlah selalu pelajaran apa yang Anda peroleh darinya. Jika tidak, Anda akan membayarnya lebih dari sekali.
MERENUNGKANNYA
Ketika saya masih kecil di pedalaman Ohio, saya melihat tanda ini di sebuah toko "Jika Anda tidak suka panen yang Anda tuai, periksalah benih yang Anda tabur". Walaupun tanda itu adalah Iklan untuk benih, ada prinsip mengagumkan terkandung di dalamnya.
Panen seperti apakah yang Anda tuai? Apakah hidup serta kepemimpinan Anda tampaknya semakin baik setiap harinya, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun? Atau, apakah Anda terus saja berjuang hanya untuk mempertahankan diri? Jika Anda tidak berada di tempat yang Anda kehendaki sekarang ini, masalah Anda mungkin saja kurangnya sikap mau diajar. Kapankah terakhir kalinya Anda melakukan sesuatu untuk pertama kalinya? Kapankah terakhir kalinya Anda membuat diri anda rentan dengan mengerjakan sesuatu yang bukan bidang Anda? Amatilah sikap Anda terhadap pertumbuhan dan belajar selama beberapa hari atau beberapa minggu mendatang untuk melihat di mana posisi Anda.
MENERAPKANNYA
Untuk meningkatkan sikap mau diajar, lakukanlah yang berikut:
  • Amatilah bagaimana reaksi Anda terhadap kekeliruan. Apakah Anda mengakui kekeliruan-kekeliruan Anda? Apakah Anda minta maaf sepantasnya? Atau apakah Anda bersikap membela diri? Amatilah diri sendiri. Dan mintalah pendapat seorang teman yang dapat dipercaya. Jika reaksi Anda buruk - atau tidak membuat kekeliruan sama sekali - Anda perlu memperbaiki sikap mau diajar.
  • Cobalah sesuatu yang baru. Lakukanlah sesuatu yang berbeda hari ini, yang akan mengekstra-rentangkan Anda secara mental, emosional, atau fisik. Tantangan akan mengubah kita menjadi lebih baik. Jika Anda benar-benar ingin tumbuh, jadikanlah tantangan baru bagian dari kegiatan Anda sehari-hari.
  • Belajarlah di bidang yang menjadi kekuatan Anda. Bacalah enam hingga dua belas buku setahunnya tentang kepemimpinan atau bidang spesialisasi Anda. Teruslah belajar di bidang di mana Anda sudah menjadi ahli agar Anda tidak menjadi tidak mau diajar.
MELATIHNYA SETIAP HARI
Setelah memenangkan kejuaraan dunianya yang ketiga, penunggang sapi, Tuff Hedeman, tidak mengadakan perayaan besar. Ia segera melanjutkan perjalanannya ke Denver utnuk memulai musim yang baru - dan seluruh prosesnya pun diulang lagi. Komentarnya: "Sapi itu takkan peduli apa yag saya lakukan minggu lalu." Entah Anda seorang pemula yang belum terbukti atau veteran yang sukses, jika Anda ingin menjadi juara besok, bersikaplah mau diajar hari ini.

Si Buruk Rupa Itu Bernama MLM!

.
 
Saya diundang oleh teman. Dia bilang, saya akan diperkenalkan dengan temannya yang pebisnis sukses. Katanya, dia sedang mencari mitra kerja untuk mengembangkan bisnisnya. Waktu saya tanya; bisnis apa-an? Dia mengatakan; lebih baik ketemu dengan ahlinya langsung. Dan kamipun sepakat untuk mengatur pertemuan disebuah hotel bintang 4, jam 7 malam. Karena saya percaya pada dia, maka saya berusaha bermacet-macet ria. Setelah saya bersusah payah seperti itu; eeh, ternyata yang dia bilang dipertemukan dengan bisnisman sukses itu cuma untuk mendengarkan presentasi MLM.
Paragraf diatas itu adalah sebuah petikan kekesalan dari seorang teman yang merasa tertipu oleh temannya sendiri. Dalam sebuah blog, ada artikel yang membahas keluhan senada. Ada ratusan komentar yang muncul untuk artikel itu. Tentu saja, pro dan kontra.
Dari mana citra buruk rupa itu muncul? Dari konsep MLM-nya kah? Dari kekeliruan pendekatan yang dilakukan oleh (sebagian) pelakunya kah? Atau dari sinisme dan sifat defensif sang penerima informasinya kah? Menarik untuk dicermati. Sebab, begitu banyak orang bersikap antipati ketika mendengar kata MLM. Sebuah percobaan kecil dengan menanyakan pendapat orang tentang bisnis MLM memberikan kesimpulan sementara bahwa; citra buruknya lebih dominan dibandingkan dengan ‘value’ sesunguhnya dari system itu. Padahal, dalam marketing; tentu saja ‘citra’ merupakan sesuatu yang teramat sangat penting.
Yang lebih menarik lagi adalah; hal itu masih terjadi setelah bertahun-tahun system ini diperkenalkan di Indonesia. Sewaktu saya masih kuliah belasan tahun lalu, MLM menjadi topik bahasan seru. Namun, hingga sekarang citra buruk itu tidak kunjung surut. Saya menjadi teringat suatu ketika guru mengaji dikampung mengatakan; Jika si A melakukan kebaikan kepada si B. Kemudian si B melakukan kebaikan yang sama kepada si C. Lalu si C melakukannya kepada si D. Dan seterusnya. Maka pahala dari rangkaian perbuatan baik itu Tuhan tebarkan hingga si A selalu mendapatkan bagiannya. Mungkin saja si A tidak mengenal si D. Tapi, ketika si D melakukan kebaikan yang diajarkannya; maka si A mendapatkan pahala. Bahkan sekalipun si A sudah meninggal, dia tetap mendapatkan pahala dari ilmu kebaikan yang diajarkannya.
Guru ngaji saya juga bilang; dalam ajaran kita, sebutir kebaikan yang dilakukan orang beriman kepada orang lain itu bagaikan sebutir benih padi. Dia akan tumbuh, lalu menghasilkan seuntai tangkai yang berisi cabang-cabang dimana setiap cabang untaian padi itu berisi cabang kecil-kecil. Dan setiap cabang kecil itu berisi cabang yang kecil-kecil lagi. Dan masing-masingnya berisi satu bulir padi.
Kepada seorang mahasiswi program study marketing saya menceritakan kembali kisah guru ngaji itu. Dan saya mengatakan kepadanya bahwa; “Konsep MLM itu menganut system pemberian pahala yang diajarkan Islam. Seseorang yang menabur benih kebaikan; akan menuai rangkaian kebaikan-kebaikan yang ditimbulkannya kemudian.”
 
Tahukah anda, mengapa saya berani mengatakan hal itu kepadanya? Karena dia adalah seorang pacar yang kemudian saya nikahi. Tetapi kepada anda, saya tidak berani mengatakan hal itu. Mengapa? Karena saya tidak mau mengambil resiko atas respon anda. Bisa saja anda mengatakan bahwa; ‘saya memanfaatkan dalil-dalil agama untuk menjustifikasi bisnis itu’. Anda juga bisa menganggap bahwa saya antek-anteknya MLM. Jadi, kepada orang lain selain istri saya; saya tidak akan mengait-ngaitkan konsep MLM dengan rangkaian pahala kebaikan yang diajarkan guru ngaji saya itu.
Tapi, marilah kita melihat beberapa hal.
 
Pertama, sudahkah kita bersikap proporsional? Kita perlu menanyakan kepada diri sendiri; apakah kita sebal kepada system MLM-nya, atau kepada cara orang-orang yang membawakannya kepada kita? Bukankah dalam kehidupan sehari-hari kita biasa mengatakan ‘oknum’ terhadap sebuah penyimpangan yang terjadi? Kata oknum, berguna bagi kita untuk membedakan apakah yang jelek itu ‘seseorang’ atau sekelompok orang, ataukah system alias lembaganya sendiri.
 
Kedua, sudahkah kita benar-benar memahami konsep MLM, atau sekedar pura-pura memahaminya? Mungkin sikap antipati kita itu sebenarnya ditimbulkan karena informasi yang kita terima kurang akurat. Atau karena cara-cara yang digunakan para pelaku MLM yang tidak tepat? Atau mungkin karena kita pernah ‘merasa’ ditipu; sehingga kita menutup diri dari kemungkinan memahami pengertian sesungguhnya tentang MLM.
 
Ketiga, jika anda seorang marketer tentu tahu bahwa dalam system penjualan biasa - yang bukan MLM – anda sering dipusingkan oleh apa yang disebut sebagai ‘barang buangan’. Barang-barang yang masuk ke teritory anda, dari teritory lain. Anda yang bekerja susah payah, tapi teman anda di kota lain yang mendapatkan salesnya karena barang buangan itu bocor ke teritory anda. Hey, tahukah anda bahwa; dalam MLM kemungkinan ‘permainan’ semacam itu sangat kecil? Jika anda sudah berhasil merekomendasikan seseorang menjadi member, maka tidak peduli dia membeli produknya dikota mana; anda tetap mendapatkan bonusnya.
 
Keempat, bisakah kita menemukan organisasi marketing yang terstruktur rapi dan sestematis? Teman saya berjualan baju muslim. Dia mengambil baju-baju itu dari Tanah Abang dengan keuntungan 30%. Kemudian, dia titipkan baju muslim itu ke Ibu-Ibu Arisan, dan memberi mereka keuntungan 20%. Si Ibu-ibu arisan mengambil sepuluh potong, lalu bilang kepada suami-suami mereka; “Pah, bilangin dong sama teman kamu supaya beli baju-baju ini untuk istrinya. Nanti Papah dapat untung 15%”. Para suami pergi kekantor, dan bilang pada Office Boy: “Dadang, kalau kamu mau menjualkan baju ini kepada karyawan disini, kamu akan mendapatkan keuntungan 10%”. Hal semacam itu lumrah terjadi disekitar kita, bukan? Menurut pendapat anda, apakah cara jualannya ‘bertingkat-tingkat’? Kayaknya sih begitu. Tapi belum sistematis, ya? Bagaimana jika mereka melakukannya dengan cara yang systematis sehingga hitung-hitungan bonusnya jelas, dan masing-masing dapat membawa baju dagangannya itu kepada teman-temannya yang lain?
 
Kelima, bisakah kita menemukan suatu system marketing yang memberikan keuntungan jangka panjang kepada konsumen atau pengguna produk setianya? Cobalah tengok barang-barang yang anda miliki. Anda membelinya. Lalu, Anda bilang pada tetangga; “Produk ini bagus, saya sudah pake tuh Jeng”; apakah anda mendapatkan imbalan dari perusahaan? Dalam MLM, setiap konsumen memiliki kesempatan untuk mendapatkan manfaat-manfaat lain, misalnya; perbedaan harga yang signifikan. Hak untuk menjual kembali kepada orang lain dengan selisih harga menarik. Dan untuk setiap tetangga yang ikut membeli produk itu atas rekomendasi anda; perusahaan bersedia memberi anda imbalan berupa pembagian keuntungan yang diperolehnya.
 
Jika kita tidak mau berbisnis, apakah kita perlu membenci MLM? Nggak, kan ya. Kita netral saja. E-eh, tunggu dulu; saya membutuhkan suatu produk tapi tidak ada di supermarket. Adanya hanya di MLM. Gimana dong? Mengapa pusing? Kita beli saja di MLM, tapi tidak usah jadi member. Sebab, MLM tidak melarang seseorang yang bukan anggota untuk membeli produknya. Dan MLM tidak memaksa konsumennya untuk menjadi tenaga marketing mereka. Mereka hanya memberi kesempatan kepada kita; KALAU-KALAU kita mau mendapatkan manfaat lain selain dari manfaat langsung dari produk yang kita beli. Jika tidak, ya tidak apa-apa. Jangan hanya karena produk itu dipasarkan secara MLM, meskipun anda membutuhkannya; anda batal membelinya.
Bagaimana jika kita ‘akhirnya’ tertarik untuk ikutan berbisnis? Lakukan saja. Tapi ingat; hindari melakukan kesalahan yang sama seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang ‘ngerjain’ anda dengan presentasi yang tidak objektif. Jadilah marketer yang profesional dan proporsional.
Kita tidak perlu mencari-cari argumen untuk menentukan; mana yang lebih baik, diantara MLM dan sistem marketing biasa. Tidak terlalu bermanfaat. Lebih baik kita tempatkan diri pada porsinya masing-masing. Kita yang tidak suka MLM dan tidak mau berurusan sama sekali dengan apapun yang berbau MLM; cukup katakan, “maaf, saya tidak tertarik”. Kita yang hanya butuh produknya saja; tidak usah ragu untuk membeli. Beli saja. Dan, kita yang menjadi pelaku bisnis MLM; terus tingkatkan profesionalisme dalam bekerja. Dengan begitu, MLM yang saat ini masih dipandang sebagai seekor anak bebek buruk rupa itu akan cepat atau lambat tumbuh menjadi seekor angsa yang cantik jelita.
 
Catatan Kaki:
Orang-orang yang baik melakukan sesuatu dengan cara-cara yang baik. Dan orang-orang yang baik membuka diri untuk setiap kebaikan dengan menunjukkan sikap yang baik.
Buku Belajar Sukses Kepada Alam
 
sumber : internet yahoo group